Wednesday, January 12, 2011

PEMBUNUH SERATUS NYAWA

PENGANTAR

Laki-laki ini tenggelam di dalam dosa. Dia telah membunuh seratus orang. Membunuh adalah perkara besar di sisi Allah, dosa agung di sisi-Nya. Akan tetapi, tidak ada dosa di mana pelakunya tidak tercakup oleh rahmat Allah. Allah mengampuni seluruh dosa jika seorang hamba kembali kepada-Nya dan bertaubat. Manakala laki-laki yang bermandikan darah seratus orang ini mengetuk pintu Tuhannya dengan benar, dia kembali kepada-Nya dengan penuh taubat. Maka Allah mengampuni dan menyayanginya.



NASH HADIS

Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Said Al-Khudri dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, "Pada Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang telah membunuh seratus orang. Lalu dia pergi bertanya dengan mendatangi seorang rahib. Dia bertanya, 'Adakah taubat untukku?' Dia menjawab, 'Tidak ada.' Maka dia membunuhnya.

Dia bertanya-tanya, lalu seorang laki-laki berkata kepadanya, 'Datanglah ke desa ini dan ini.' Saat dalam perjalanan itulah dia dijemput oleh maut. Maka Malaikat rahmat dan Malaikat adzab berselisih. Maka Allah mewahyukan kepada ini, 'Mendekatlah'. Dan Allah mewahyukan kepada ini, 'Menjauhlah'. Lalu berkata, 'Ukurlah antara keduanya. Maka dia lebih dekat kepada ini satu jengkal. Dan dia diampuni.'

Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Said Al- Khudri bahwa Nabiyullah bersabda, "Pada umat sebelum kalian terdapat seorang laki-laki pembunuh sembilan puluh sembilan nyawa. Dia bertanya tentang penghuni bumi yang paling alim. Dia ditunjukkan kepada seorang rahib, dan dia mendatanginya. Dia berkata bahwa dia telah membunuh sembilan puluh sembilan nyawa, maka adakah taubat untuknya? Rahib itu menjawab, 'Tidak.' Dan dia membunuhnya untuik menggenapkan hitungan menjadi seratus.

Kemudian dia bertanya tentang penduduk bumi yang paling alim. Dia pun ditunjukkan kepada seorang alim. Dia berkata bahwa dia telah membunuh seratus orang, lalu apakah dia masih bisa bertaubat? Dia menjawab, 'Ya, siapa yang menghalanginya dari taubat. Pergilah ke kota ini dan ini, karena di sana terdapat orang-orang yang beribadah kepada Allah. Maka beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka. Jangan pulang ke kotamu karena kota itu buruk.'

Lalu dia berangkat. Sampai di tengah perjalanan, dia mati. Malaikat rahmat dan Malaikat adzab berselisih tentangnya. Malaikat rahmat berkata, 'Dia datang dengan taubat, datang dengan hatinya kepada Allah.' Malaikat adzab berkata, 'Dia belum melakukan kebaikan apa pun.' Lalu seorang Malaikat yang berwujud manusia datang kepada mereka, dan mereka menjadikannya pengadil di antara mereka. Dia berkata, 'Ukurlah antara kedua kota. Kemana dia lebih dekat, maka ia untuknya.'

Lalu mereka mengukurnya, dan mereka mendapatkannya lebih dekat kepada kota yang dia tuju. Maka Malaikat rahmat mengambilnya."

Qatadah berkata bahwa Hasan berkata, "Dikatakan kepada kami bahwa ketika dia mati, dia miring dengan dadanya."



TAKHRIJ HADIS

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Ahadisil Anbiya’, 6/512, no. 3470. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitabut Taubah, bab diterimanya orang yang bertaubat (4/2118), no. 2766. Hadis ini Syarah Shahih Muslim An-Nawawi, 17/235.



PENJELASAN HADIS

Kisah ini membuka pintu harapan bagi setiap pendosa, seberapa besar dosanya dan agung kejahatannya. Kisah seorang laki-laki yang tenggelam dalam dosa dan kemaksiatan. Rasulullah menyampaikan bahwa laki-laki ini membunuh seratus orang. Akan tetapi dosa-dosa ini belum mencerabut seluruh benih dan cikal bakal kebaikan dalam dirinya. Masih tersisa di relung jiwanya secercah cahaya, setitik rasa takut kepada Tuhannya. Mungkin dia bertanya-tanya antara diri dan jiwanya, apakah hubungannya dengan Tuhannya telah terputus sehingga tidak mungkin lagi dia kembali kepada-Nya, ataukah di sana masih terdapat harapan di mana dia dari Tuhannya jika dia kembali kepada-Nya?

Dia tidak mampu memberi jawaban untuk dirinya sendiri. Orang seperti dia, yang hanyut dalam dosa-dosa pasti tidaklah berilmu. Oleh karena itu, dia keluar dari rumah untuk mencari seorang alim yang bisa memberinya fatwa dan menjawab pertanyaannya. Dia menyadari bahwa persoalannya sangatlah besar. Hanya orang dengan ilmu besar yang bisa mengatasinya, sehingga dia tidak bertanya tentang orang alim, tetapi orang yang paling alim.

Orang yang ditanya pertama kali tidak mampu menunjukkan penduduk bumi teralim, dia hanya bisa menunjukkan seorang rahib. Para rahib banyak beribadah tetapi minim ilmu, dan orang awam bisa tertipu dengan orang-orang seperti itu. Mereka menyangka bahwa banyak ibadah berarti banyak ilmu, lalu mereka datang dan belajar kepada mereka serta meminta fatwa kepada mereka. Dan para rahib ini pun melakukan kesalahan; jika dia tertipu dengan datangnya orang-orang kepadanya, maka dia pun memberi fatwa tanpa ilmu. Semestinya mereka berterusterang dengan menjelaskan secara terbuka tentang keadaan diri mereka. Jika mereka memang tidak mengetahui, hendaknya berkata 'Allahu a'lam' dan tanyakan kepada orang lain yang mempunyai ilmu.

Laki-laki ini mendatangi rahib itu. Rahib itu menyimak persoalannya. Dia merasa dosa orang ini sangat besar, dia mengira rahmat Allah tidak cukup untuk menaunginya. Dan orang seperti laki-laki ini, rahmat Allah tidak cukup untuk meliputinya. Cukuplah anggapan ini sebagai kebodohan.

Jika dugaan rahib ini benar, maka pelaku kejahatan akan semakin bertambah banyak. Seorang penjahat jika dia telah putus harapan dari rahmat Allah dan dia mengetahui bahwa jalan kembali kepada-Nya telah tertutup, maka hal ini akan semakin mendorongnya untuk lebih mendalam menyelami kejahatan dan kerusakan. Hal ini dibuktikan oleh laki-laki ini. Manakala dia mendengar bahwa pintu taubat telah tertutup dan bahwa rahmat Allah tidak menaunginya, dia pun bertambah nekat dan rahib itu menjadi pelengkap korban yang keseratus.

Sepertinya rahib ini di samping tidak berilmu, dia juga tidak mengetahui tabiat manusia. Jika dia mengetahuinya, niscaya dia tidak menjawab dengan segera. Semestinya dia mengambil langkah-langkah yang sesuai untuk dirinya, seperti menghadirkan temantemannya yang kuat di sekelilingnya atau menjawab di balik tembok biaranya. Karena, orang seperti laki-laki ini tidak lagi peduli, dia bisa membunuh hanya karena alasan yang sepele, membunuh dan mengalirkan darah sudah menjadi kebiasaannya.

Dia membunuh rahib itu. Dia tetap tidak puas dengan jawabannya. Harapan kepada Allah baginya sangatlah besar, dan orang yang memberinya fatwa kepadanya adalah orang yang jahil terhadap Allah. Dia memerlukan penegasan dan seseorang yang mengenalkannya dengan yang benar. Sekali lagi dia mencari seorang alim yang kepadanya dia mengadukan masalahnya. Dia ditunjukkan kepada seorang alim tentang Allah. Dia memang benarbenar alim. Oleh karena itu, si alim ini berkata dengan penuh keheranan kepada laki-laki tersebut, "Siapa yang menghalangi dirimu dari taubat?" Pertanyaan yang menyimpan pengingkaran dan keheranan. Ini menunjukkan bahwa ilmu tersebut adalah sesuatu yang tidak memerlukan banyak pemikiran, sudah ada di benaknya, dan tidak perlu bertanya. Sesungguhnya rahmat Allah itu luas, meliputi orang ini dan orang sepertinya. Sebesar dan sebanyak apa pun dosa itu, ia tetap ada harapan dari Allah.

Si alim ini tidak sekedar alim. Lebih dari itu, dia adalah seorang pendidik. Oleh karenanya, dia tidak sekedar menjawab bahwa pintu taubat masih terbuka lebar. Lebih dari itu, dia menunjukkan jalan yang harus dilaluinya. Orang yang tenggelam dalam dosa-dosa harus merubah jalan hidupnya. Dia harus meninggalkan orangorang sesat yang bergaul dengannya dan hidup bersama mereka. Dia harus meninggalkan apa yang ada pada dirinya selama ini. Dia harus pindah ke lingkungan yang baik dan mendukungnya kepada kebaikan juga menjauhi kemunkaran. Alim itu memerintahkan laki-laki yang ingin taubat ini agar meninggalkan desanya, karena ia adalah desa yang buruk, lalu berhijrah ke tempat lain yang telah ditentukan untuknya di mana di sana terdapat orang-orang yang beribadah kepada Allah. Maka, di sana dia bisa bergaul bersama mereka dan beribadah kepada Allah bersama mereka pula.

Laki-laki in tidak menyia-nyiakan waktunya. Dia pergi ke desa yang ditunjukkan oleh orang alim itu demi mencari lembaran hidup yang baru. Kehidupan yang bersih, baik dan lurus, agar bisa mencuci jiwa yang kotor oleh dosadosa dan menghidupkannya dengan iman dan kebaikan.

Ketika laki-laki ini tiba di pertengahan jalan, ajalnya datang. Kematian menjemputnya. Karena kuatnya keinginannya kepada taubat, pada saat naza' terakhir dia memiringkan dadanya ke arah desa yang baik yang ditujunya. Dia mati dalam keadaan ingin kembali kepada Allah, pergi ke desa yang baik untuk beribadah kepada- Nya, meninggalkan seluruh hidupnya yang sarat dengan dosa dan kejahatan di belakangnya. Selanjutnya, bagaimana akhirnya? Tempat apa yang diraih di sisi Tuhannya?

Rasulullah memberitakan kepada kita bahwa Malaikat rahmat dan Malaikat adzab berselisih tentangnya. Masing-masing kubu ingin menangani urusannya dan mengurusinya. Mereka berkata, "Orang ini telah membunuh seratus nyawa." Sementara mereka berkata, "Dia telah bertaubat dan kembali kepada Allah. Dia datang menghadap."

Maka Allah mengutus untuk mereka seorang Malaikat dalam wujud seorang manusia dan memerintahkan mereka agar mengukur jarak antara kedua desanya, desa kerusakan dan kedzaliman dan desa orang-orang yang baik lagi terpilih, lalu Allah memerintahkan desa yang baik untuk mendekat dan desa yang berpenduduk dzalim agar menjauh, maka mereka mendapatinya lebih dekat satu jengkal kepada desa orang-orang baik. Mungkin satu jengkal hasil dari usaha menyorongkan dadanya pada waktu dia dalam keadaan naza', maka Malaikat rahmat mengurusinya dan dosa-dosanya yang besar diampuni, "Katakanlah, 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)



PELAJARAN-PELAJARAN DAN FAEDAH-FAEDAH HADIS
  1. Luasnya rahmat Allah dengan diterimanya taubat orang-orang yang bertaubat, walaupun dosa-dosa mereka besar dan kesalahan-kesalahan mereka banyak. Oleh karena itu, orang-orang yang berputus asa kepada Allah adalah orang-orang yang tidak mengetahui Allah, dan tidak mengenal luasnya rahmat Allah.
  2. Diterimanya taubatnya seorang pembunuh jika dia bertaubat dengan benar. Hal ini dibantah oleh sebagian ulama, padahal hadis secara tegas menyatakan diterimanya taubat pembunuh, dan ini tidak hanya berlaku untuk umat-umat terdahulu saja. Hal ini didukung oleh firman Allah, "Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipatgandakan adzab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih." (QS. Al-Furqan: 68-70). Allah telah mengecualikan orang-orang yang bertaubat dan berbuat kebaikan dari orang-orang yang dilipatgandakan adzabnya (kalangan orang-orang musyrik, para pembunuh, para penjahat, dan para pezina).
  3. Akidah Ahlus Sunnah menyatakan bahwa semua dosa selain syirik mungkin untuk diampuni. Jika Allah berkehendak, maka Allah mengadzab pelakunya. Dan jika Allah berkehendak maka Allah mengampuni pelakunya. "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, barangsiapa yang dikehendaki-Nya." (QS. An-Nisa: 48)
  4. Hendaknya seorang alim membimbing orang-orang yang bertaubat kepada amalan-amalan yang memantapkan iman di hati mereka dan membebaskan mereka dari keburukan yang mereka lakukan, sebagaimana alim ini menunjukkan laki-laki yang ingin bertaubat tersebut agar meninggalkan desanya kepada suatu kaum yang shalih untuk beribadah kepada Allah bersama mereka.
  5. Keunggulan alim di atas ahli ibadah. Alim ini menjawab dengan ilmu, sementara si rahib menjawab dengan ngawur.
  6. Para Malaikat yang ditugaskan kepada Bani Adam, bisa jadi ijtihad mereka dalam menentukan hukum berjalan dengan berbeda. Bisa jadi mereka mengangkat masalah tersebut kepada Allah agar perkara yang mereka perselisihkan bisa diputuskan.
  7. Allah mengkhususkan kelompok Malaikat yang menangani roh orang-orang mukmin ketika roh mereka dicabut, yang dikenal dengan Malaikat rahmat. Dan Malaikat yang mengurusi nyawa orang fasik yang dzalim disebut Malaikat adzab.
  8. Kemampuan Malaikat untuk menjelma dalam wujud manusia seperti yang dilakukan oleh Malaikat yang menjadi pengadil antara Malaikat rahmat dan Malaikat adzab.
  9. Keutamaan Bani Adam di mana Allah mengutus Malaikat dalam wujud Bani Adam sebagai pengadil di antara mereka.
  10. Seorang alim yang tidak menduduki kursi pengadilan tidak wajib menegakkan hukum Allah atas pelaku kejahatan. Laki-laki ini mengakui di depan alim itu bahwa ia telah membunuh seratus orang, tetapi alim itu tidak memenjarakannya. Akan tetapi, tidak menyelidiki perkaranya, akan tetapi dia menyarankannya untuk bertaubat dan berhijrah.

Sumber: Kisah-Kisah Shahih dalam Al-Qur'an dan Sunnah,
Bahagian Ke-3: Kisah-Kisah yang Menunjukkan Keutamaan Amal,
Kisah ke-34

0 comments:

Post a Comment